Amoreclouds

Malam Minggu sama Juyeon

(Diuploadnya bukan malam minggu, maafin authornya🙏)

Jumil base on local AU

🔞 vanilla sex

Sorry for typo, enjoy!


Hari ini malam minggu, seperti biasa para pasangan pasti ngapel ke rumah pacarnya sama seperti yang Juyeon lakukan. Dari abis magrib dia udah siap-siap untuk berangkat ke rumah pacarnya, dia mengelap blacky motor hitam pemberian ayahnya saat ia berumur tujuh belas tahun sampai kinclong. Setelah selesai semuanya ia kembali ke kamar untuk menyemprotkan wewangian yang pacarnya suka, katanya sih parfume yang dia pakai itu wanginya enak banget jadi pacarnya betah buat nempel ke Juyeon.

“Maah Juy ngapel dulu ke rumah Hyunjae ya! Juy bawa kunci jadi nanti mama langsung kunci aja pintu rumah ya!”

Juyeon berteriak kepada mamahnya yang ada di kamar. Karena teriakan anaknya sang ibu keluar dari kamarnya, masih memakai mukena dan membawa tasbih ditangannya.

“Haduuh Juy gak usah teriak-teriak. Yasudah hati-hati, jangan aneh-aneh di rumah Hyunjae ya! Ada orang tuanya kan? Jangan nginep ya!”

“Ada kali? Tadi katanya sih ada. Iya-iya Juy langsung pulang gak nginep selow aja~ Udah ya Juy berangkat dulu.”

“Iyaa! Eh salamnya mana??”

“Astagfirullah lupa! Assalamualaikum maah!”

“Waalaikumsalam. Jangan ngebut Juy!”

“Iyaa maaaa!!! Gak janjiii.”

. . . . .

Juyeon akhirnya melesat pergi menuju ke rumah Hyunjae. Jarak dari rumahnya sih hanya 2 km. Cukup dekat karena memang mereka masih satu sekolah jugakan dan mereka kebetulan cinta monyet ala-ala anak SMA.

Setelah akhirnya menempuh jalanan yang macet karena banyaknya orang-orang yang keluar rumah, tibalah Juyeon di depan rumah sang pacar. Ia mengetok pintu rumah kekasihnya, tak lama kemudian terbukalah pintu rumah oleh ibunya Hyunjae.

“Eh nak Juyeon, mau malmingan sama Hyunjae ya? Hyunjaenya baru kelar bantu tante masak nih, dia lagi mandi sekarang. Masuk dulu yuk.”

“Ehehehe iya bun kangen abisnya, okee bun”

Ibunya Hyunjae sangat welcome sekali pada Juyeon karena mereka sudah pacaran dari mereka kelas 1 SMA sampai mereka kelas 3 sekarang, kebetulan juga kedua ibu mereka teman baik saat kuliah. Sementara ayah mereka bekerja ditempat yang sama sebagai pilot di maskapai penerbangan terkenal di Indonesia. . . . . . Setelah menunggu 10 menit akhirnya Hyunjae turun dari kamarnya dan menghampiri kekasihnya yang setia menunggu di ruang tv sambil menonton berita dan mencicipi kue yang tersedia.

Hyunjae memeluk Juyeon dari belakang dan memberikan kecupan pada pipi kekasihnya.

Cup

“Ayaangggg kangeenn! Maaf ya lama tadi sekalian keramas terus bebersih segala macem dulu.”

Juyeon yang menyadari kekasihnya sudah selesai mandi dan menghampirinya menutup toples kue dan berbalik tersenyum melihat Hyunjae yang sedang memeluknya dari belakang.

“Ihh ayang aku udah cakep banget! Wangi lagi! Aku juga kangeeeen tau, maaf ya baru bisa ke rumah.”

“Hihihi gapapa! By the way kamu belum makan malem kan? Kita makan yuk kebetulan tadi aku udah bantuin bunda masak soalnya tadi sore ayah pulang.”

“Wah ada ayah? Aku belum ketemu loh sama ayah.”

“Ada tapi kayanya masih istirahat sih di kamar. Yaudah kamu tunggu sini sebentar aku mau panggil ayah sama bunda buat makan malam. Bentar ya.” . . . . .

Setelah memanggil kedua orangtuanya untuk makan malam mereka kini mereka sudah berkumpul dimeja makan dan menyantap masakan bunda yang dibantu oleh Hyunjae. Sedikit berbincang mengenai kelanjutan akan kuliah dimana setelah lulus nanti lalu disusul oleh guyonan sang ayah yang membuat Juyeon tersedak makanannya.

“Kalian kan udah lama nih pacarannya. Abis lulus SMA kan kuliah, kalian gak mau tunangan? Kayanya kalian kalo nikah muda lucu deh. Ayah pingin Hyunjae ada yang nemenin biar gak kesepian.”

uhuk uhuk uhuk

“Ayah ih! Apaan sih nikah muda nikah muda. Kasian nih Juyeon kaget sampe keselek. Ayangg minum dulu nih.”

Hyunjae memberikan minum kepada Juyeon dengan perlahan. Sang ayah merasa tidak bersalah hanya terkekeh mendengar galaknya sang anak.

“Aduh yah kalau buat nikah muda Juyeon belum kepikiran, masih mau nikmatin masa muda begini sama Hyunjae. Lagian Juyeon kan belum punya apa-apa. Cafe juga masih on going.. Mungkin kalau tunangan akan Juyeon pikirin yah.”

“Hahahaha Juy santai aja! Ayah cuman bercanda kok, tapi kalo emang kalian mau serius beneran ya ayah dukung. Kalo mau tunangan sekarang-sekarang juga boleh.”

“Ih ayah apa gak terlalu cepat? Bunda sih maunya nanti aja setelah mereka lulus.. Ya saat mereka udah mulai kuliah lah gitu.”

“Duhhhh ayah bunda udah ahh, ini aku sama Juy belum lulus loh. Udah ah bahas giniannya nanti-nanti aja ya? Kita mending lanjutin aja makannya.”

“Aduh anak bunda ngambek, yaudah kalian habiskan makannya ya.” . . . . .

Akhirnya setelah berbincang pembicaraan yang berat dan menghabiskan makanan malam mereka kini sang ayah dan bunda sudah kembali ke kamar, sementara Juyeon dan Hyunjae sedang duduk di ruang tv dengan paha Juyeon menjadi bantal untuk kepala Hyunjae. Mereka sedang nonton film horor terbaru yang sedang hits, rekomendasi dari Changmin dan pacarnya.

“Ih apaan sih ini mah gak seru horornya, masa pocongnya takut sama kunti. Padahal kan sama-sama hantu!”

“Tau ya yangg aneh banget. Udah gitu masa minta dibukain tali pocong tapi pas mau dibukain malah teriak. Pocongnya aneh nih!”

“Emang selera film Changmin lagi aneh banget dah. Kita jalan-jalan aja yuk Juy? Bosen ih di rumah.”

“Hmmmm emang kamu mau kemana? Tadi dijalan tuh macet pol yangg. Kakiku masih pegel ini.”

“Huh yaudah deh di rumah aja..”

Hyunjae mengempoutkan bibirnya membuat Juyeon gemas dengan tingkah kekasihnya, ia mencuri sebuah kecupan pada bibir manisnya dan mengusak rambut halus Hyunjae dengan gemas.

“Uuuuu ayangnyaa aku ngambek. Jangan ngambek ayangggg!”

“Enggaaa ga ngambek koo. Udah lanjut lagi nontonnya.”

Akhirnya mereka melanjutkan untuk menonton film horor lagi. Setelah 15 menit mereka menonton film ayah dan bunda Hyunjae menghampiri mereka dengan pakaian yang sudah rapih, tak lupa sang bunda membawa koper kecil seperti akan staycation.

“Loh bun yah rapih bener? Itu ngapain juga bawa koper?”

“Ehehehe bunda kira kalian jalan-jalan ke luar rumah. Ini ayah ternyata ada undangan ke nikahan anak temennya terus kebetulan juga besok pagi ayah flight jadi sekalian aja kondangan terus nginep di hotel. Kamu ditinggal sendiri gak apa-apakan?”

“Yah bun bilang aja mau malam mingguan juga. Yaudah sana berangkat! Jangan bawa oleh-oleh adik bayi ya awas aja!”

“Hahaha kamu apaansih Je, yaudah bunda sama ayah pergi dulu ya. Juyeon titip Hyunjae ya. Kalo mau nginep gak apa-apa, jangan lupa kunci pintu rumah abis ini.”

“Iya bun siapp!”

Akhirnya setelah ditinggal kedua orang tuanya Hyunjae mengajak Juyeon untuk pindah ke kamarnya dan disinilah mereka sekarang. Hyunjae yang mendusel pada dada bidang kekasihnya dan memeluk tubuhnya dengan erat sementara Juyeon fokus pada film netflix yang mereka nyalahkan.

“Hmmm Juy.... Kamu nginep aja ya? Tadi kata bundakan gak apa-apa.. Ya nginep ya?”

“Tadi sih aku bilang ke mamah gak nginep, tapi nanti aku kabarin mamah dulu. Kayanya diluar juga ujan deh.”

“Yesss asikk! Cuddle semaleman sama Juyeeooonn~~~”

Setelah mengirim pesan pada bunda dan dibalas dengan jawaban “Yasudah kalau gitu, mamah titip salam buat Hyunjae. Bilang besok ke rumah mamah kangen.” kini Juyeon dan Hyunjae sudah berganti pakaian yang lebih nyaman untuk tidur kemudian mereka menggosok gigi dan cuci muka bersama-sama. Juyeon kemudian menggendong Hyunjae ala koala dan kemudian membaringkannya ke atas kasur dengan perlahan.

“Jee.. Kamu tau gak sih kalau kamu tuh indah banget?”

“Ih apasih Juuyy mulai deh gombal!”

“Ih engga, serius kamu tuh indah banget.. I'm so lucky to have you in my life.”

Juyeon merapihkan anak rambut Hyunjae perlahan tak lupa memberikan kecupan tanda sayang pada kening, pipi, dan bibir kekasihnya.

“Lagi...”

“Huh? Lagi apa sayang?”

“Mau di kiss lagi sama Juy..”

Juyeon akhirnya meraih kepala Hyunjae dan menciumnya dengan perlahan. Hyunjae langsung membalas bibir kekasihnya dengan sama lembutnya. Tidak ada deru nafas yang keluar dari keduanya, hanya kelembutan yang membuat Hyunjae merasa tenang berada dibawah tubuh kekasihnya.

Ritme ciuman mereka yang lembut perlahan-lahan meningkat. Juyeon sedikit menggigit bibir bawah kekasihnya agar memberikan akses untuk lidahnya masuk. Akhirnya lidah mereka bertemu dan saling mendominasi. Tak ada yang mau kalah dari silat lidah tersebut membuat mereka kehabisan oksigen dan melepaskan ciumannya.

Juyeon menatap Hyunjae yang bibirnya telah bengkak, matanya sayu, dan nafasnya terputus-putus seolah memberikan tanda untuk ia berbuat lebih kepada kekasihnya tersebut. Tak butuh waktu lama untuk Juyeon kembali mempertemukan bibir mereka, ciuman yang lebih intens dari sebelumnya.

Erangan-erangan kecil dari bibir Hyunjae mulai terdengar. Juyeon melepaskan bibirnya dan membawa ke leher putih mulus milik kekasihnya, memberikan sentuhan-sentuhan di titik sensitif yang berhasil membuat Hyunjae gila. Sesekali ia membawa bibirnya ke daun telinga Hyunjae, memberi satu dua kecupan dan gigitan kecil.

“Yang... Aku mau masukin kamu... Boleh?”

Hyunjae yang pasrah akan semua yang telah dilakukan oleh Juyeon hanya bisa menganggukan kepalanya. Juyeon yang telah diberi lampu hijau kini melepaskan semua pakaian yang menempel dikulitnya, tak lupa juga membuka pakaian kekasihnya. Dilihatnya penis Hyunjae yang sudah tegang dan mengeluarkan percumnya, Juyeon langsung memberikan blowjob dengan perlahan membuat Hyunjae mendesah nikmat.

“Ahhhh Juyy....”

Hyunjae sangat menikmati penisnya yang berada dalam bibir kekasihnya, ia menjambak rambut hitam Juyeon dan makin melesakkan penisnya hingga Juyeon sedikit tersedak. Namun Juyeon tetap memberikan service terbaiknya pada sang kekasih.

Tak lama kemudian Hyunjae mengeluarkan putihnya didalam mulut Juyeon. Juyeon menelan habis sperma milik Hyunjae dan kembali mencium ranum kekasihnya yang sudah bengkak akibat ulahnya.

“Uhh Juyy udahhhh.. Mau langsung masuk....”

“Gak sabar heum?sebentar sayang aku siapin dulu lubang kamu.”

Juyeon mengambil lubricant yang ada di laci kamar dan menuangkannya pada jari serta lubang Hyunjae yang merah dan berkedut minta diisi. Juyeon mencoba merilekskan tubuh kekasihnya dengan memberikan kecupan-kecupan pada paha dalamnya, dan mencoba memasukan jari tengahnya dengan perlahan.

“Nghhhh Juy....”

“Kamu ketat banget Hyunjae..”

Satu jari berhasil masuk dan Juyeon mulai melakukan gerakan perlahan, saat dirasa Hyunjae mulai menikmati permainan jarinya ia menambah 2 jari lagi membuat kekasihnya semakin mendesah hebat.

“Uhhhh nghhh Juyeon terus disitu...”

“Disini sayang? Mau ditusuk disini terus hmm?”

“Iyaaa Juyy nghh... Lagiii yang cepet...”

Juyeon terus menusukan jarinya tepat pada prostate Hyunjae, selang beberapa menit akhirnya kekasihnya berhasil keluar untuk yang kedua kalinya.

Hyunjae menghembuskan nafas secara cepat, lelah sudah dua kali mengeluarkan putihnya sementara Juyeon belum sama sekali. Penis kekasihnya itu masih tegak berdiri membuat Hyunjae semakin panas membayangkan penis besar kekasihnya akan kembali menghancurkan tubuhnya seperti awal pertama mereka melakukannya.

“Sayang udah siap? Sekarang aku masuk ya.”

Juyeon memposisikan penisnya tepat didepan lubang milik Hyunjae, ia mendorongnya dengan perlahan dan melihat ekspresi kekasihnya yang sedikit menahan sakit karena sudah lama mereka tidak melakukannya setelah insiden kemah waktu itu. Juyeon kembali mencium bibir Hyunjae sambil terus mendorong masuk penisnya, akhirnya setelah berhasil masuk semua ia mendiamkan sebentar penisnya.

“Uhh Juy kamu besar banget..”

“Aku gerak ya sayang.”

Juyeon mulai menggerakan penisnya keluar masuk dengan tempo perlahan, menikmati bagaimana otot lubang Hyunjae memijat penisnya dengan nikmat.

“Nghh Juy yang cepet geraknya...”

Menuruti keinginan sang kekasih, Juyeon mulai menggerakan penisnya dengan cepat. Ia tusuk prostate Hyunjae berkali-kali membuat kekasihnya menggila, Hyunjae tak tahan dengan kenikmatan yang diberikan oleh kekasihnya hanya bisa mendesah hebat sambil memainkan putingnya yang belum terjamah oleh Juyeon. Juyeon yang melihat Hyunjae bermain dengan dadanya menepis tangan Hyunjae dan menggantikan tangan kekasihnya dengan mulutnya.

“Ahh! Juyeonn.. E-enak bangettt..”

Juyeon terus menghisap putih hyunjae sambil terus bergerak dengan cepat. Hyunjae tak tahan dengan semua kenikmatan yang kekasihnya berikan akhirnya menumpahkan putihnya pada tubuhnya.

“Hah..hah..Hah Juy.. Istirahat dulu aku capek...”

Setelah pelepasan Hyunjae, Juyeon berhenti menggerakan penisnya yang masih tegang. Otot lubang Hyunjae masih terus memijat penisnya membuat Juyeon menggeram tertahan.

“Sayang jangan bobo dulu aku belum selesai, ini aku terusin sebentar yah?”

Juyeon mengelus peluh yang ada pada dahi Hyunjae, sang kekasih hanya bisa menganggukan kepalanya karena sudah tak bisa lagi bersuara saking lelahnya.

Juyeon memulai kembali gerakannya dengan tempo perlahan lalu menaikan kecepatannya saat dirasa ia akan mengeluarkan putihnya.

Hyunjae kembali mendesah nikmat karena tusukan penis kekasihnya sangat tepat menusuk pada prostatenya. Apalagi ditambah dengan Juyeon yang memilin kedua putingnya semakin membuat Hyunjae gila. Padahal ia sudah sangat lelah namun kenikmatan yang Juyeon berikan tak boleh ia sia-siakan.

“Nghh sayang aku mau keluar.. Ugh..”

“Ahhh! Keluar Juy.. Keluar.”

“Aku keluar di dalam ya?Ngh.”

“Ughhh iyaah.. Ahh yang cepet Juy..”

Akhirnya setelah beberapa kali tusukan Juyeon mengeluarkan putihnya begitu banyak di dalam Hyunjae sampai merembes ke paha kekasihnya. Juyeon menjatuhnya tubuhnya dan memeluk Hyunjae sambil memberikan kecupan-kecupan pada leher kekasihnya.

“Hyunjae... That just was amazing more than our first sex Makasih ya sayang..”

“I-iyah Juy.. Yang tadi nikmat banget, gak buru-buru kaya sex pertama kita di kemah itu..”

“Kalau diinget-inget emang sex pertama kita tuh rusuh banget. Untung aja waktu itu gak ketahuan sama Younghoon dan Changmin.”

“Uhhh udah ah! Malu kalo dinget-inget tuh. Untung aja untuungg mereka gak bangun gara-gara suara desahan aku.”

“Penis aku terlalu nikmat sih ya, kamu jadi gak tahan buat ngedesah waktu itu.”

“Ih Juyeon rese! Udah ih pindah kamu beratttt!”

“Huu iya-iya aku pindah, tapi yangg.. Kita lanjut yuk? Aku belum puas. Hehehe.”

“AHHHHH JUYEON MESUMMMM!! GAK MAU!!”

“Akhirnya mereka kembali bercinta sampai jam tiga pagi karena Hyunjae juga menikmati tusukan penis Juyeon pada lubangnya.“

END

Bbangkyu One Shoot AU

Warning : TW/ Mpreg

Bbanghoon x Kyu


Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, dimana seharusnya manusia sudah terlelap dikasur dan sedang mengarungi mimpinya dengan memeluk seseorang yang dicinta. Namun berbeda dengan dua pasang suami-suami ini, sang suami masih saja berkutat dengan dokumen-dokumen pekerjaannya yang ia bawa ke rumah. Tidak ingin lembur di kantor karena ingin menemani sang suami katanya, namun nyatanya ia malah lembur di ruang kerjanya dan tidak menemani suaminya yang sedang mengandung anaknya yang sekarang ini sedang menunggu suaminya di kamar sambil mengelus-ngelus perutnya yang semakin besar.

Changmin sang suami yang sedang hamil ini akhirnya memutuskan untuk menghampiri suaminya yang masih saja berkutat dengan pekerjaannya, ia turun dari kasur dengan perlahan dan keluar dari kamarnya menuju ruang kerja suaminya yang berada di lantai 1.

Tok. Tok. Tok

Clek

“Mas... Ini udah jam satu loh, katanya tadi gak mau lembur terus maunya nemenin aku tapi kok masih aja bermesraan dengan dokumen-dokumenmu itu?”

Changmin mengempoutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada berdiri di depan pintu kerja Younghoon.

“Aduh sayang maaf ya, sebentar lagiiiii~ Kamu kalau ngantuk bobo aja duluan.”

Younghoon masih fokus dengan dokumen-dokumennya tanpa menoleh pada suami mungilnya.

“Kim Younghoon..”

Changmin yang jarang sekali memanggil nama panjang suaminya itu membuat Younghoon kaget. Ia akhirnya melepas kacamatanya, membereskan seluru dokumen pekerjaannya lalu menghampiri suaminya. Karena jika Changmin sudah memanggil nama panjangnya itu bertanda jika suami mungilnya ini akan marah padanya. Yaa meskipun Younghoon yakin kalau Changmin sudah marah sekarang.

“Iyaaa iyaa sayangkuuu, cintakuuu, papanya Didi Dudu nih aku dah selesai nih. Yuk bobo yuuuk.. Aduh kasian cintaku ini perut dah besar harus turun tangga nyamperin aku pasti kakinya sakit ya sayang..”

“Sayang-sayang. Susah bangett sih kalau sekali dibilangin. Kamu tuh padahal bos loh, kenapa masih aja bawa dokumen kantor ke rumah. Padahal itu kerjaan aku yakin bisa kan di handle sama sekertarismu.”

Changmin masih mode ngambeknya sementara Younghoon hanya tersenyum mendengarkan omelan suami mungilnya. Ia akhirnya memeluk Changmin dari belakang sambil mengusap perutnya yang semakin besar.

“Maafin aku ya sayang... Ini kerjaan kantor ku bawa ke rumah karena Chanhee izin cuti lahiran dari tiga hari yang lalu. Lagian ini tuh aku cuman tanda tangan doang tapi kan perlu diperiksa satu-satu takut ada yang aneh-aneh.” “Duh Didi sama Dudu nih belum bobo ya kok masih gerak-gerak. Kasian papa peyutnya sakit looh..”

Saat Younghoon mengusap perut Changmin, kedua bayi kembar yang ada di perut suaminya menendang-nendang atas respon usapan darinya. Changmin sedikit meringis merasakan tendangan buah hatinya yang aktif di dalam perut.

“Aw.. Mereka nendang kenceng banget, pasti kangen nih ngobrol sama papinya. Tapi papinya sibuk sama kerjaannya ya Didi Dudu yah?”

Changmin bergumam sambil mengusap perlahan perutnya dengan tangan Younghoon yang masih ada di atas perutnya.

“Aduhh maafin papi yaa, yuk sekarang kita bobo aja yuk. Sayang sini aku gendong, kamu cape nanti naik ke atas.”

“Ih apaansih mas! Aku masih kuat buat ke kamar juga, jangan aneh-aneh deh! Nanti kalau kamu gendong terus kita berempat jatuh gimana?! Aku udah mulai berat loh! Anak kamu ini makannya pada banyak.”

Changmin membalikan badannya dan menatap Younghoon dengan tajam, sementara yang ditatap hanya tertawa sambil tersenyum gemas dengan tingkah suami kecilnya.

“Aku sanggup kok gendong kamu beneran deh. Yuk biar cepet sampai atas.”

“Beneran ya? Awas aja sampe aku jatuh. Awas juga kalau besok ngeluh pinggangnya sakit gara-gara gendong aku! Gak aku pinjetin!”

“Hahaha iya sayang enggaaa, gaa akan~ dah sini ku gendong.”

Akhirnya dengan terpaksa Changmin menyetujui ucapan Younghoon dan akhirnya sang suami menggendongnya sampai menuju kamar mereka.

. . .

Akhirnya mereka sampai di kamar, Younghoon merebahkan Changmin dengan perlahan seakan-akan sang suami mungilnya adalah barang yang sangat ringkih. Setelah membaringkan Changmin dengan posisi yang nyaman, Younghoon segera bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci muka serta tak lupa membawa ember kecil berisi air hangat untuk mengompres kaki Changmin yang bengkak karena kehamilannya.

“Duh kan kakimu bengkak lagi. Aku kompres dulu ya abis itu ku pijit?” Younghoon bersiap memijit kaki suami mungilnya.

“Ih gak usah mas gapapa, kamu udah seharian kerja harusnya aku yang pijitin kamu.”

“Changmin sayang, mas gak capek kerja gini doang mah. Adanya tuh kamu pasti cape seharian udah urus rumah dengan dudu didi di perut kamu.. Udah ya sekarang rileks aja biar bisa cepat tidur.”

Akhirnya Younghoon mulai mengompres kaki Changmin yang bengkak. Lalu setelah dirasa kakinya sudah tidak terlalu bengkak lagi ia mulai memijatnya dengan perlahan menggunakan minyak aroma therapy.

“Mas kira-kira kalau nanti aku lahiran kamu bisa cuti kan?”

“Ya bisa dong sayang. Aku kayanya seminggu sebelum kamu lahiran sampe 1 bulan setelahnya bakalan izin cuti deh. Aku mau fokus urus kamu sama si kembar.”

“Ih lebay banget sampe sebulan setelah aku melahirkan! Gak usah selama itu juga kali mas, nantikan bunda sama ibu juga pasti bantu aku. Terus katanya kamu mau cari maid buat urus rumah kan? Jadi jangan lama-lama ya. Kasian juga Chanhee kan dia pasti urus baby juga, nanti repot kamu gak masuk kerja sebulan.”

“Yah tapi kan aku mau quality time yang lama sama kamu, didi sama dudu. Nanti aku takut sibuk banget di kantor.”

“Kamu sibuk di kantor juga kan pulang-pulang juga ke rumah, emangnya kamu mau nginep di kantor gitu?!”

“Eh.. Enggak sih. Tapi kan maksudnya gitu..”

“Udah jangan alesan ah, pokoknya aku izinin kamu cuman di rumah dua minggu aja. Oke?”

“Huft iya oke. Nanti aku bilang ke Jacob gak jadi sebulan.”

“Nah baguss papi Dudu Didi emang paling the best sini aku cium dulu!”

Changmin merentangkan tangannya sambil memberikan gestur cium kepada sang suami, Younghoon dengan siap langsung memeluk menghampiri Changmin dan mencium bibir manis suaminya.

Cup

“Makasih ya mas selalu ada buat aku sama Didi dan Dudu.. Kita sayang banget sama mas!”

“Makasih juga ya sayang udah jadi suami mas yang sabar, yang baik hati, yang sayang sama mas yang udah rela lelah mengandung anak mas yang pasti gemes dan lucu kaya papahnya. Aku sayang bangettt sama kamu. I love you Ji Changmin.”

“I love you too mas.”

. . .

END

Bbangkyu One Shoot AU

Warning : TW/ Mpreg

Bbanghoon x Kyu

...

Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, dimana seharusnya manusia sudah terlelap dikasur dan sedang mengarungi mimpinya dengan memeluk seseorang yang dicinta. Namun berbeda dengan dua pasang suami-suami ini, sang suami masih saja berkutat dengan dokumen-dokumen pekerjaannya yang ia bawa ke rumah. Tidak ingin lembur di kantor karena ingin menemani sang suami katanya, namun nyatanya ia malah lembur di ruang kerjanya dan tidak menemani suaminya yang sedang mengandung anaknya yang sekarang ini sedang menunggu suaminya di kamar sambil mengelus-ngelus perutnya yang semakin besar.

Changmin sang suami yang sedang hamil ini akhirnya memutuskan untuk menghampiri suaminya yang masih saja berkutat dengan pekerjaannya, ia turun dari kasur dengan perlahan dan keluar dari kamarnya menuju ruang kerja suaminya yang berada di lantai 1.

Tok. Tok. Tok

Clek

“Mas... Ini udah jam satu loh, katanya tadi gak mau lembur terus maunya nemenin aku tapi kok masih aja bermesraan dengan dokumen-dokumenmu itu?”

Changmin mengempoutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada berdiri di depan pintu kerja Younghoon.

“Aduh sayang maaf ya, sebentar lagiiiii~ Kamu kalau ngantuk bobo aja duluan.”

Younghoon masih fokus dengan dokumen-dokumennya tanpa menoleh pada suami mungilnya.

“Kim Younghoon..”

Changmin yang jarang sekali memanggil nama panjang suaminya itu membuat Younghoon kaget. Ia akhirnya melepas kacamatanya, membereskan seluru dokumen pekerjaannya lalu menghampiri suaminya. Karena jika Changmin sudah memanggil nama panjangnya itu bertanda jika suami mungilnya ini akan marah padanya. Yaa meskipun Younghoon yakin kalau Changmin sudah marah sekarang.

“Iyaaa iyaa sayangkuuu, cintakuuu, papanya Didi Dudu nih aku dah selesai nih. Yuk bobo yuuuk.. Aduh kasian cintaku ini perut dah besar harus turun tangga nyamperin aku pasti kakinya sakit ya sayang..”

“Sayang-sayang. Susah bangett sih kalau sekali dibilangin. Kamu tuh padahal bos loh, kenapa masih aja bawa dokumen kantor ke rumah. Padahal itu kerjaan aku yakin bisa kan di handle sama sekertarismu.”

Changmin masih mode ngambeknya sementara Younghoon hanya tersenyum mendengarkan omelan suami mungilnya. Ia akhirnya memeluk Changmin dari belakang sambil mengusap perutnya yang semakin besar.

“Maafin aku ya sayang... Ini kerjaan kantor ku bawa ke rumah karena Chanhee izin cuti lahiran dari tiga hari yang lalu. Lagian ini tuh aku cuman tanda tangan doang tapi kan perlu diperiksa satu-satu takut ada yang aneh-aneh.” “Duh Didi sama Dudu nih belum bobo ya kok masih gerak-gerak. Kasian papa peyutnya sakit looh..”

Saat Younghoon mengusap perut Changmin, kedua bayi kembar yang ada di perut suaminya menendang-nendang atas respon usapan darinya. Changmin sedikit meringis merasakan tendangan buah hatinya yang aktif di dalam perut.

“Aw.. Mereka nendang kenceng banget, pasti kangen nih ngobrol sama papinya. Tapi papinya sibuk sama kerjaannya ya Didi Dudu yah?”

Changmin bergumam sambil mengusap perlahan perutnya dengan tangan Younghoon yang masih ada di atas perutnya.

“Aduhh maafin papi yaa, yuk sekarang kita bobo aja yuk. Sayang sini aku gendong, kamu cape nanti naik ke atas.”

“Ih apaansih mas! Aku masih kuat buat ke kamar juga, jangan aneh-aneh deh! Nanti kalau kamu gendong terus kita berempat jatuh gimana?! Aku udah mulai berat loh! Anak kamu ini makannya pada banyak.”

Changmin membalikan badannya dan menatap Younghoon dengan tajam, sementara yang ditatap hanya tertawa sambil tersenyum gemas dengan tingkah suami kecilnya.

“Aku sanggup kok gendong kamu beneran deh. Yuk biar cepet sampai atas.”

“Beneran ya? Awas aja sampe aku jatuh. Awas juga kalau besok ngeluh pinggangnya sakit gara-gara gendong aku! Gak aku pinjetin!”

“Hahaha iya sayang enggaaa, gaa akan~ dah sini ku gendong.”

Akhirnya dengan terpaksa Changmin menyetujui ucapan Younghoon dan akhirnya sang suami menggendongnya sampai menuju kamar mereka.

. . .

Akhirnya mereka sampai di kamar, Younghoon merebahkan Changmin dengan perlahan seakan-akan sang suami mungilnya adalah barang yang sangat ringkih. Setelah membaringkan Changmin dengan posisi yang nyaman, Younghoon segera bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci muka serta tak lupa membawa ember kecil berisi air hangat untuk mengompres kaki Changmin yang bengkak karena kehamilannya.

“Duh kan kakimu bengkak lagi. Aku kompres dulu ya abis itu ku pijit?” Younghoon bersiap memijit kaki suami mungilnya.

“Ih gak usah mas gapapa, kamu udah seharian kerja harusnya aku yang pijitin kamu.”

“Changmin sayang, mas gak capek kerja gini doang mah. Adanya tuh kamu pasti cape seharian udah urus rumah dengan dudu didi di perut kamu.. Udah ya sekarang rileks aja biar bisa cepat tidur.”

Akhirnya Younghoon mulai mengompres kaki Changmin yang bengkak. Lalu setelah dirasa kakinya sudah tidak terlalu bengkak lagi ia mulai memijatnya dengan perlahan menggunakan minyak aroma therapy.

“Mas kira-kira kalau nanti aku lahiran kamu bisa cuti kan?”

“Ya bisa dong sayang. Aku kayanya seminggu sebelum kamu lahiran sampe 1 bulan setelahnya bakalan izin cuti deh. Aku mau fokus urus kamu sama si kembar.”

“Ih lebay banget sampe sebulan setelah aku melahirkan! Gak usah selama itu juga kali mas, nantikan bunda sama ibu juga pasti bantu aku. Terus katanya kamu mau cari maid buat urus rumah kan? Jadi jangan lama-lama ya. Kasian juga Chanhee kan dia pasti urus baby juga, nanti repot kamu gak masuk kerja sebulan.”

“Yah tapi kan aku mau quality time yang lama sama kamu, didi sama dudu. Nanti aku takut sibuk banget di kantor.”

“Kamu sibuk di kantor juga kan pulang-pulang juga ke rumah, emangnya kamu mau nginep di kantor gitu?!”

“Eh.. Enggak sih. Tapi kan maksudnya gitu..”

“Udah jangan alesan ah, pokoknya aku izinin kamu cuman di rumah dua minggu aja. Oke?”

“Huft iya oke. Nanti aku bilang ke Jacob gak jadi sebulan.”

“Nah baguss papi Dudu Didi emang paling the best sini aku cium dulu!”

Changmin merentangkan tangannya sambil memberikan gestur cium kepada sang suami, Younghoon dengan siap langsung memeluk menghampiri Changmin dan mencium bibir manis suaminya.

Cup

“Makasih ya mas selalu ada buat aku sama Didi dan Dudu.. Kita sayang banget sama mas!”

“Makasih juga ya sayang udah jadi suami mas yang sabar, yang baik hati, yang sayang sama mas yang udah rela lelah mengandung anak mas yang pasti gemes dan lucu kaya papahnya. Aku sayang bangettt sama kamu. I love you Ji Changmin.”

“I love you too mas.”

. . .

END

Bbangkyu One Shoot AU

Warning : TW/ Mpreg

Bbanghoon x Kyu

...